Tel: (0274) 586239   Email: sekr-btipdp@bppt.go.id

Bppt Luncurkan Multi Parameter Radar Dan Triton Buoy, Pertama Di Asean

“BPPT bekerjasama dengan Japan Agency for Marine Earth Science and Technology (Jamstec) Jepang meluncurkan teknologi Multi Parameter Radar (MPR) dan INA Triton Buoy. Teknologi baru ini bermanfaat untuk mendeteksi dan mengantisipasi cuaca ekstrim dan iklim di Indonesia dan mengetahui curah hujan, serta berbagai jenis hujan, kecepatan angin, dan abu vulkanik”.

 

 

Hal demikian disampaikan Kepala BPPT Marzan A. Iskandar saat workshop dan peluncuran teknologi Multi Parameter Radar and INA Triton Buoy di BPPT (12/3). “Workshop ini dapat memberikan manfaat bagi kedua belah pihak dengan cara yang lebih konstruktif. Selain itu, dengan peluncuran ini diharapkan BPPT dapat mengeksplorasi jaringan untuk kepentingan sosial yang memberikan manfaat lebih untuk masyarakat,” ujarnya.

 

Senada dengan Kepala BPPT, Menteri Negara Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta mengatakan bahwa Teknologi MPR dan Ina Triton Buoy merupakan teknologi baru yang bermanfaat untuk mengatasi efek dari variasi iklim lebih pendek. “Melalui kemitraan ini, kedua belah pihak dapat mengembangkan Pusat Benua Maritim of Excellence di Indonesia  untuk mendukung program utama yaitu penguatan Sistem Inovasi Nasional bersama dengan lembaga lain seperti LAPAN, LIPI dan BMKG,” katanya.

Pada kesempatan yang berbeda, Perekayasa Kedeputian TPSA BPPT, Fadly Syamsudin menekankan bahwa peluncuran kedua teknologi tersebut sebagai bagian dari upaya antisipasi bencana. MPR dengan frekuensi X-band dalam program Harimau memiliki jangkauan yang dekat sekitar 100-150km dan memliki resolusi yang bagus.

Menurutnya, Indonesia merupakan satu-satunya negara di Asean yang memiliki perangkat teknologi radar ini. “Radar ini bisa memberi peringatan dini  bila terjadi bencana dan bisa dipindahkan sesuai kebutuhan serta membantu dalam perekaman data cuaca. Parameternya mencakup dua hal yaitu angin dan curah hujan. Dari dua parameter tersebut kita bisa memperoleh empat atau lima data,” jelas  Fadly.

“Data ini sangat penting. Kita memprediksi apa yang terjadi di waktu mendatang melalui data sebelumnya. Termasuk bagaimana siklus hujan berulang, kekuatan hujan, dan material hujan. Sehingga ke depannya kita bisa menghindari siklus banjir dan kekeringan yang kerap terjadi," ujar perwakilan Japan International Cooperation Agency (JICA), Tomoyuki Tada.

Sementara itu, Pimpinan Proyek kerja sama riset benua maritim Jepang (Satreps-Mccoe) Profesor Manabu Yamanaka mengatakan radar seharga Rp10 miliar ini merupakan hibah dari Jepang sebagai mitra kerja sama untuk digunakan dalam operasional riset di Jabodetabek. “Ini teknologi baru dari Jerman. Jepang sendiri baru membuat tiga radar semacam ini untuk riset dengan harga dua kali lipat dari buatan Jerman, namun teknologinya lebih aktual dan kompleks,” imbuhnya.

INA Triton Buoy, kata Fadly, berbentuk mirip seperti pelampung. Fungsinya untuk memantau perubahan unsur iklim cuaca di atas dan bawah laut seperti suhu, tekanan, salinitas, gerakan arus dan sebagainya. Buoy Triton ini akan dipasang di perairan Pasifik dekat Papua, tepatnya di nol derajat lintang (ekuator) dan 138 Bujur Timur pada Juni 2012 dengan Kapal Baruna Jaya IV. "Dengan memasang buoy ini berarti Indonesia menjadi negara yang turut andil dalam komunitas dan sistem pemantauan bumi (Global Earth Observation System of Systems atau GEOSS). AS dan Jepang pun telah memasang sejumlah buoy pemantau iklim di berbagai titik di lautan,” katanya. (KYRAS/humas)

SNI ISO/IEC 17025:2008

SNI ISO/IEC 17020:2012

Statistik Pengunjung

1.png1.png7.png2.png2.png2.png
Today44
Yesterday100
This week352
This month2281
Total117222

Kontak Kami

Jl. Grafika 2, Sekip Yogyakarta 55281
Telp. 62-274 586239 / Fax. 62-274 542789

Kantor Perwakilan :
BPDP-BPPT, Gedung BPPT II, Lantai 10
Jl. M.H Thamrin No. 8, Jakarta 10340
Telp. 62-21 3169398 / Fax. 62-21 3169393